kejang pada bayi baru
lahir
- adalah kejang yang terjadi pada bayi sampai dengan usia 28 hari
- Kejang pada BBL merupakan keadaan darurat karena kejang merupakan suatu tanda adanya penyakit sistem sayarf pusat (SSP), kelainan metabolik atau penyakit lain.
- Sering tidak dikenali karena berbeda dengan kejang pada anak
- Kejang umum tonik klonik jarang terjadi pada BBL
- Kejang berulang menyebabkan berkurangnya oksigenisasi, ventilasi dan nutrisi otak
MANIFESTASI
Kejang tersamar
- Hampir tidak terlihat
- Menggambarkan perubahan tingkah laku
- Bentuk kejang :
- Otot muka, mulut, lidah menunjukan gerakan menyeringai
- Gerakan terkejut-kejut pada mulut dan pipi secara tiba-tiba menghisap, mengunyah, menelan, menguap
- Gerakan bola mata ; deviasi bola mata secara horisontal, kelopak mata berkedip-kedip, gerakan cepat dari bola mata
- Gerakan pada ekstremitas : pergerakan seperti berenang, mangayuh pada anggota gerak atas dan bawah
- Pernafasan apnea, BBLR hiperpnea
- Untuk memastikan : pemeriksaan EEG
Kejang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan
dan tungkai
Kejang klonik
- Berlangsung selama 1-3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran
- Dapat disebabkan trauma fokal
- BBL dengan kejang klonik fokal perlu pemeriksaan USG, pemeriksaan kepala untuk mengetahui adanya perdarahan otak, kemungkinan infark serebri
- Kejang klonik multifokal sering terjadi pada BBL, terutama bayi cukup bulan dengan BB>2500 gram
- Bentuk kejang : gerakan klonik pada satu atau lebih anggota gerak yang berpindah-pindah atau terpisah secara teratur, misal kejang klonik lengan kiri diikuti kejang klonik tungkai bawah kanan
Kejang tonik
- Terdapat pada BBLR, masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan pada bayi dengan komplikasi perinatal berat
- Bentuk kejang : berupa pergerakan tonik satu ekstremitas, pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai, menyerupai sikap deserebasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi
Kejang mioklonik
- Gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat, gerakan menyerupai refleks moro
Gemetar
- Sering membingungkan
- Kadang terdapat pada bayi normal yang dalam keadaan lapar (hipoglikemia, hipokalsemia, hiperiritabilitas neuromuscular)
- Gerakan tremor cepat
- Tidak disertai gerakan cara melihatabnormal atau gerakan bola mata
- Dapat timbul dengan merangsang bayi, sedangkan kejang tidak timbul dengan perangsangan
- Gerakan dominan adalah gerakan tremor
- Pergerakan ritmik anggota gerak pada gemetar dihentikan dengan melakukan fleksi anggota gerak
Apnea
- Pada BBLR pernafasan tidak teratur, diselingi dengan henti nafas 3-6 detik, sering diikuti dengan hiperapnea 10-15 detik
- Berhentinya pernafasan tidak disertai perubahan denyut jantung, tekanan darah, suhu badan, warna kulit
- Bentuk pernafasan disebut pernafasan periodik disebabkan belum sempurnanya pusat pernafasan di batang otak
- Serangan apnea tiba-tiba disertai kesadaran menurun pada BBLR dicurigai adanya perdarahan intracranial
- Perlu pemeriksaan USG
Manifestasi kejang pada BBL
- Tremor/gemetar
- Hiperaktif
- Kejang-kejang
- Tiba-tiba menangis melengking
- Tonus otot hilang diserati atau tidak dengan hilangnya kesadaran
- Pergerakan tidak terkendali
- Nistagmus atau mata mengedip ngedip paroksismal
ETIOLOGI
- Kejang bayi dengan asfiksia disertai oleh hipoglikemia, hipokalsemia, perdarahan intracranial, edema otak
- Pada bayi cukup bualn penyebab kejang yang terjadi
- 48 jam pertama : asfiksia, trauma lahir, hipoglikemia
- Antara hari ke 5-ke 7 : hipokalsemia yang terjadi bukan karena komplikasi
- Antara hari ke 7-ke 10 : infeksi, kelainan genetik
PENILAIAN
Jenis kejang?
Bagian mana dari tubuh yang mengalami kejang?
Sudah berapa lama kejang terjadi?
Merupakan kejang yang ke berapa kali?
DIAGNOSIS
Anamnesa
Keluarga, riwayat kehamilan, riwayat persalinan dan kelahiran
Riwayat kehamilan
- Bayi kecil untuk masa kehamilan
- Bayi kurang bulan
- Ibu tidak disuntik TT
- Ibu menderita DM
Riwayat persalinan
- Persalinan dengan tindakan
- Persalinan presipitatus
- Gawat janin
Riwayat kelahiran
- Trauma lahir
- Lahir asfiksia
- Pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril
Pemeriksaan kelainan fisik
- Kesadaran
- Suhu tubuh
- Tanda-tanda infeksi lain
Penilaian kejang
- Bentuk kejang : gerakan bola mata abnormal, nistagmus, gerakan mengunyah, gerakan otot-otot muka, timbulnya episode apnea, adanya kelemahan umum yang periodik, tremor, gerakan klonik sebagian ekstremitas, tubuh kaku
- Lama kejang
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
- Pemeriksaan gula darah, elektrolit darah, AGD, darah tepi, lumbal pungsi
- EKG
- EEG
- Biakan darah
- Titer untuk toksoplasmosis, rubela, citomegalovirus, herpes
- Foto rontgen kepala
- USG kepala
PENANGANAN
Prinsip tindakan untuk mengatasi kejang
- Menjaga jalan nafas tetap bebas
- Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang
- Mengobati penyebab kejang
Penanganan kejang pada BBL
- Bayi diletakan dalam tempat hangat, pastikan bayi tidak kedinginan, suhu dipertahankan 36,5-37ᴼC
- Jalan nafas dibersihkan dengan tindakan penghisapan lendir diseputar mulut, hisung dan nasofaring
- Pada bayi apnea, pertolongan agar bayi bernafas lagi dengan alat Bag to Mouth Face Mask oksigen 2 liter/menit
- Infus
- Obat antispasmodik/anti kejang : diazepam 0,5 mg/kg/supp/im setiap 2 menit sampai kejang teratasi dan luminal 30 mg im/iv
- Nilai kondisi bayi tiap 15 menit
- Bila kejang teratasi berikan cairan infus dextrose 10% dengan tetesan 60ml/kgBB/hr
- Cari faktor penyebab
- Apakah mungkin bayi dilahirkan dari ibu DM
- Apakah mungkin bayi prematur
- Apakah mungkin bayi mengalami asfiksia
- Apakah mungkin ibu bayi emnghisap narkotika
- Kejang sudah teratasi, diambil bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk mencari faktor penyebab, misalnya : darah tepi, elektrolit darah, gula darah, kimia darah, kultur darah, pemeriksaan TORCH
- Kecurigaan kearah sepsis (pemeriksaan pungsi lumbal)
- Kejang berulang, diazepam dapat diberikan sampai 2 kali
- Masih kejang : dilantin 1,5 mg/kgBB sebagai bolus iv diteruskan dalam dosis 20 mg iv setiap 12 jam
- Belum teratasi : phenytoin 15 mg/kgBB iv dilanjutkan 2 mg/kg tiap 12 jam
- Hipokalsemia (hasil lab kalsium darah <8mg%) : diberi kalsium glukonas 10% 2 ml/kg dalam waktu 5-10 menit . apabila belum juga teratasi diberi pyridoxin 25-50 mg
- Hipoglikemia (hasil lab dextrosit/gula darah < 40 mg%) : diberi infus dextrose 10%
Penanganan
- Kejang neonatal akut harus diterapi secara agresif, meskipun kontroversidalam perawatan yang optimal bagi mereka.
- Ketika terdapat kejang klinis yang, harus dilakukan pemeriksaan yang ketat untuk menentukan penyebab etiologi harus dimulai dengan cepat.
- Pertahankan homeostasis sistemik (pertahankan jalan nafas, usaha nafas dan sirkulasi)
- Ketidakseimbangan elektrolit harus diperbaiki melalui situs vena sentral.
- Hypocalcemia harus diperlakukan hati-hati dengan kalsium, karena kebocoran kalsium ke dalam jaringan subkutan dapat menyebabkan jaringan parut.
- Ketika kesalahan metabolisme bawaan dicurigai, menghentikan pemberian makanan, karena makanan dapat memperburuk kejang dan ensefalopati. Pemberian obat intravena mungkin harus direncakanan.
- Setelah masalah ini telah ditangani, obat terapi (AED) antiepilepsi harus dipertimbangkan. Fenobarbital adalah obat awal pilihan. Jika kejang terus berlanjut, penggunaan fenitoin harus dipertimbangkan. Pasien dengan kejang akibat perdarahan intrakranial harus memiliki pengukuran lingkar kepala dilakukan setiap hari. Sebuah peningkatan pesat dalam lingkar kepala dapat menunjukkan hidrosefalus.
- Terapi etiologi spesifik :
1.
Dekstrose 10% 2 ml/kg BB
intravena bolus pelan dalam 5 menit
2.
Kalsium glukonas 10 % 200
mg/kg BB intravena (2 ml/kg BB) diencerkan aquades sama banyak diberikan secara
intra vena dalam 5 menit (bila diduga hipokalsemia)
3.
Antibiotika bila
dicurigai sepsis atau meningitis
4. Piridoksin 50 mg IV sebagai terapeutik trial pada defisiensi
piridoksin, kejang akan berhenti dalam beberapa menit
Prosedur Terapi anti kejang :
Pemberian obat antiepilepsi harus dilembagakan secara tertib dan
efisien. Perawatan awal dengan fenobarbital harus dipertimbangkan. Jika kejang
terus berlanjut, fenitoin harus ditambahkan. Kejang persisten mungkin
memerlukan penggunaan benzodiazepin intravena, seperti lorazepam atau
midazolam.
- Fenobarbital : Loading dose 10-20 mg/kg BB intramuskuler dalam 5 menit, jika tidak berhenti dapat diulang dengan dosis 10 mg/kgBB sebanyak 2 kali dengan selang waktu 30 menit.
- Bila kejang berlanjut diberikan fenitoin: loading dose 15-20 mg/kg BB intra vena dalam 30 menit.
- Rumatan fenobarbital dosis 3-5 mg/kgBB/hari dapat diberikan secara intramuskuler atau peroral dalam dosis terbagi tiap 12 jam, dimulai 12 jam setelah loading dose.
- Rumatan fenitoin dosis 4-8 mg/kgBB/hari intravena atau peroral dalam dosis terbagi tiap 12 jam.
- Penghentian obat anti kejang dapat dilakukan 2 minggu setelah bebas kejang dan penghentian obat anti kejang sebaiknya dilakukan sebelum pulang kecuali didapatkan lesi otak bermakna pada USG atau CT Scan kepala atau adanya tanda neurologi abnormal saat akan pulang.
Seperti yang dinyatakan sebelumnya, kejang konsentrasi obat
harus dimonitor selama periode akut. Obat ini seringkali dihentikan antara usia
3 dan 6 bulan jika kejang lebih lanjut belum terjadi. Tren terhadap penghentian
sebelumnya telah bertemu dengan hasil yang baik. Hipoglikemia, jika ada, harus
diperbaiki.
Antikonvulsan. Obat ini mencegah
terulangnya kejang dan mengakhiri aktivitas kejang klinis dan listrik.
- Fenobarbital Penting untuk menggunakan jumlah minimal yang diperlukan fenobarbital dan menunggu untuk efek antikonvulsan untuk mengembangkan sebelum dosis kedua diberikan. Mulailah dengan dosis muatan dan lanjutkan dengan dosis pemeliharaan.
- Fenitoin (Dilantin, Phenytek) Fenitoin harus ditambahkan ke fenobarbital jika kejang bertahan. Fenitoin dapat bertindak di korteks motorik, di mana ia dapat menghambat penyebaran aktivitas kejang. Aktivitas batang otak pusat bertanggung jawab untuk fase tonik dari kejang grand mal juga dapat terhambat.
- Lorazepam (Ativan) Lorazepam adalah antikonvulsan benzodiazepine. Hal ini digunakan dalam kasus-kasus refrakter terhadap fenobarbital dan fenitoin. Dengan meningkatkan aksi GABA, yang merupakan neurotransmitter inhibisi utama di otak, lorazepam dapat menekan semua tingkat SSP, termasuk formasi limbik dan retikuler
Vitamin, Water-Soluble. Pyridoxine mungkin
efektif dalam kejang yang tahan terhadap obat-obatan sudah dibahas. Hal ini
penting untuk asam deoksiribonukleat normal (DNA) sintesis dan fungsi sel.
- Pyridoxine (Aminoxin, Pyri-500) Piridoksin harus diadili pada pasien yang tidak menanggapi rejimen atas. Pasien dengan piridoksin tergantung kejang segera merespon piridoksin
Referensi
- Volpe JJ. Hypoxic-Ischemic Encephalopathy: Biochemical and Physiological Aspects. In: Neurology of the Newborn. 4th ed. Philadelphia: WB Saunders; 2000:217-276.
- Lombroso CT. Neonatal seizures: gaps between the laboratory and the clinic. Epilepsia. 2007;48 Suppl 2:83-106.
- Sheth RD. Electroencephalogram confirmatory rate in neonatal seizures. Pediatr Neurol. Jan 1999;20(1):27-30.
- Silverstein FS, Jensen FE. Neonatal seizures. Ann Neurol. Aug 2007;62(2):112-20.
- Sheth RD, Hobbs GR, Mullett M. Neonatal seizures: incidence, onset, and etiology by gestational age. J Perinatol. Jan 1999;19(1):40-3.
- Sheth RD. Frequency of neurologic disorders in the neonatal intensive care unit. J Child Neurol. Sep 1998;13(9):424-8.
- [Best Evidence] Pisani F, Sisti L, Seri S. A scoring system for early prognostic assessment after neonatal seizures. Pediatrics. Oct 2009;124(4):e580-7.
- Vigevano F. Benign familial infantile seizures. Brain Dev. Apr 2005;27(3):172-7.
- Sheth RD. Frequency of neurologic disorders in the neonatal intensive care unit. J Child Neurol. Sep 1998;13(9):424-8.
- Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. Neonatology, management, procedures, on call problems disease and drugs; edisi ke-5. New York : Lange Books/Mc Graw-Hill, 2004; 310-3.
- Adre
J du Plessis. Neonatal seizures. In : Cloherty JP, Stark AR, eds.
Manual of neonatal care; edisi ke-5. Boston : Lippincott Williams &
Wilkins, 2004; 507-23.
·
HIPERTERMIA
·
BAB I
·
PENDAHULUAN
·
A.
Latar Belakang
·
Hipetensi
ini biasanya diwariskan sebagai ciri dominan autoan. Sindrom ini terjadi pada
semua penyakit inti sentral,tetapi tidak terbatas pada niopati tertentu. Gena
yang cacat pada lokus 19913.1 terdapat pada penyakit inti sentral maupun
hipertermia maligna tanpa miopati tertentu ini. Sindrom ini jarang terdapat
pada sistroti muskularis duchenne & dustrafi muskularis lain. Pada sindrom
tersendiri yang tidak terkait dengan penyakit otot lain. Anak yang terkena
kadang-kadang tidak memiliki wajah yang aneh semua usia dapat terkena. Bahkan
termasuk bayi prematur yang ibunya mengalami anastesia umum untuk bedah sesar.
·
B.
Tujuan
·
- Untuk
lebih mengenali penderita yang beresiko untuk hipertermia maligna, karena
serangannya dapat dicegah dalam pemberian natrium dan trolan sebelum anatesik
diberikan.
·
- Dapat
memberikan cukup informasi untuk menciptakan diagnosis banding, menegakkan
etiologi spesifikasi atau menyarankan pengambilan jaringan untuk biopsi dan
biakan.
·
BAB II
·
PEMBAHASAN
·
1.
Defenisi
·
Hipertertmia
adalah suhu tubuh yang tinggi dan bukan disebabkan oleh mekanisme pengaturan
panas hipotalamus.
·
2.
Etiologi
·
Disebabkan
oleh meningkatnya produksi panas andogen (olahraga berat, hipertermia
maligna,sindrom neuroleptik maligna,hipertiroidisme), pengurangan kehilangan
panas, atau terpajan lama pada lingkungan bersuhu tinggi (sengatan panas).
·
3.
Gejala
·
- Suhu
badannya tinggi
·
-
Terasa kehausan
·
- Mulut
kering-kering
·
-
Kedinginan, lemas
·
- Anoreksia
(tidak selera makan)
·
- Nadi
cepat dan
·
-
Pernafasan tidak teratur.
·
4.
Tindakan / Pengobatan
·
- Bila
suhu diduga karena paparan panas yang berlebihan :
·
Letakkan
bayi di ruangan dengan suhu lingkungan normal (25ºC – 28ºC).
·
Lepaskan
sebagian atau seluruh pakaiannya bila perlu
·
Periksa
suhu aksiler setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal.
·
Bila
suhu sangat tinggi (<39ºC), bayi dikompres atau dimandikan selama 10-15
menit dalam air yg suhunya 4ºC lebih rendah dari suhu tubuh bayi.
·
- Bila
bayi pernah diletakkan di bawah pemancar panas atau inkubator
·
Turunkan
suhu alat penghangat, bila bayi di dalam inkubator, buka inkubator sampai suhu
dalam batas normal.
·
Lepas
sebagian atau seluruh pakaian bayi selama 10 menit kemudian.
·
Beri
pakaian lagi sesuai dengan alat penghangat yang digunakan
·
Periksa
suhu bayi setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal.
·
Periksa
suhu inkubator atau pemancar panas setiap jam dan sesuaikan pengatur suhu.
·
-
Manajemen lanjutan suhu lebih 37,5ºC
·
Yakinkan
bayi mendapatkan masukan cukup cairan
·
Anjurkan
ibu untuk menyusui bayinya. Bila bayi tidak dapat menyusui, beri ASI peras
dengan salah satu alternatif cara pemberian minum.
·
Bila
terdapat tanda dehidrasi, tangani dehidrasinya.
·
Periksa
kadar glukosa darah,bila kurang 45 mg/dl (2,6 mmol/l), tangani hipoglikemia.
·
Cari
tanda sepsis sekarang dan ulangi leagi bila suhu tubuh mendapai batas normal.
·
Setelah
suhu bayi normal :
·
Lakukan
perawatan lanjutan
·
Pantau
bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu badannya setiap 3 jam.
·
Bila
suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat diberi minum dengan baik serta
tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat
dipulangkan, nasehati ibu cara menghangatkan bayi di rumah dan melindungi dari
pancaran panas yang berlebihan.
·
BAB III
·
PENUTUP
·
A.
Kesimpulan
·
Demam
adalah kenaikan suhu tubuh yang ditengahi oleh kenaikan titik ambang regulasi
panas hipotalamus. Ada banyak macam-macam demam, salah-satunya yaitu
hipertermia. Hipertermia ini adalah suhu tubuh yang tinggi dan bukan disebabkan
oleh mekanisme pengatur panas hipotalamus.
·
B.
Saran dan Kritik
·
Kami
sebagai penulis sangat membutuhkan kritik dan saran yang sangat berguna bagi
kita untuk mengatasi penyakit hipertermia pada neonatus dan anak balita di
bawah umur agar terhindarnya dari segala penyakit yang sangat berbahaya karena
adanya penyakit hipertermia.
·
DAFTAR
PUSTAKA
·
Nelson, Prof. Dr. dr.
Samik Wahab, S.PA (k), Buku Ilmu Kesehatan Anak Vol.1 edisi 15, Penerbit Buku
Kedokteran, Jakarta, 1996.
·
_______, Prof. Dr. dr.
Samik Wahab, S.PA (k), Buku Ilmu Kesehatan Anak Vol.2 edisi 15, Penerbit Buku
Kedokteran, Jakarta, 1996.
1. HIPOTERMIA
A.DEFINISI HIPOTERMIA
Terlalu lama kedinginan, khususnya dalam cuaca berangin dan
hujan, dapat menyebabkan mekanisme pemanasan tubuh terganggu sehingga
menyebabkan penyakit kronis. Hipotermia adalah suatu keadaan dimana tubuh
merasa sangat kedinginan. Setelah panas dipermukaan tubuh hilang maka akan
terjadi pendinginan pada jaringan dalam dan organ tubuh.
Kedinginan yang terlalu lama dapat menyebabkan tubuh beku,
pembuluh darah dapat mengerut dan memutus aliran darah ke telinga, hidung, jari
dan kaki. Dalam kondisi yang parah mungkin korban menderita ganggren (kemuyuh)
dan perlu diamputasi.
Udara dingin yang basah disertai angin yang bertiup kencang,
seringkali dijumpai para pendaki ketika melakukan pendakian gunung. Tidak
jarang badai dan hujan lebat menyertai hawa dingin. Malam yang cerah seringkali
membuat udara semakin dingin dan berembun. Di puncak musim kemarau justru di
sekitar puncak gunung seringkali muncul kristal-kristal es yang menempel pada
daun-daunan dan bunga edelweis. Pakaian yang basah, kaos kaki yang basah
semakin menambah dinginnya badan. Keadaan akan semakin parah bila pendaki tidak
memperhatikan makanan sehingga tubuh tidak memperoleh energi untuk memanaskan
badan. Dinginnya udara seringkali membuat perut kembung sehingga enggan untuk
makan, kecuali memang kehabisan makanan.
Hipotermia adalah kondisi di mana tubuh kita mengalami
penurunanan suhu inti (suhu organ dalam). Hipotermia bisa menyebabkan
terjadinya pembengkakan di seluruh tubuh (Edema Generalisata), menghilangnya
reflex tubuh (areflexia), koma, hingga menghilangnya reaksi pupil mata. Disebut
hipotermia berat bila suhu tubuh < 320C. Untuk mengukur suhu tubuh pada
hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai
250C. Di samping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit
yang berakhir dengan kematian.
Beberapa
jenis hipotermia, yaitu:
Accidental hypothermia terjadi ketika suhu tubuh inti menurun
hingga <35°c.>
Primary accidental hypothermia merupakan hasil dari paparan
langsung terhadap udara dingin pada orang yang sebelumnya sehat.
Secondary accidental hypothermia merupakan komplikasi gangguan
sistemik (seluruh tubuh) yan serius. Kebanyakan terjadinya sih di usim dingin
(salju) dan iklim dingin.
B.PENYEBAB
HIPOTERMIA
Penyebab
Hipotermi, yaitu:
1. Yang
pasti, ada kontak dengan lingkungan yang dingin.
2.
Adanya gangguan atau penyakit yang diderita.
3.
Penggunaan obat-obatan (alcohol, barbiturate, phenothiazine, insulin, steroid,β-
blocker.
4.
Sepsis, hipotiroid, radang pancreas
C.GEJALA
HIPOTERMIA
Gejala
dan Indikasi Penyakit Hipotermia
Gejala awal hipotermia apabila suhu < 360C atau kedua kaki
dan tangan teraba dingin.
Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami
hipotermia sedang (suhu 320C - <360C).
Gigi gemeretakan, merasa
sangat letih dan mengantuk yang sangat luar biasa.
Selanjutnya pandangan mulai menjadi kabur, kesigapan mental dan
fisik menjadi lamban.
Bila tubuh korban basah, maka serangan hiportemia akan semakin
cepat dan hebat.
Selain itu bila angin bertiup kencang, maka pendaki akan cepat
sekali kehilangan panas tubuhnya (“faktor wind cill”). Jadi kalau badan basah
kuyub kehujanan dan angin bertiup kencang, maka potensi hipotermia menjadi
“paradoxical feeling of warmt” akan semakin cepat terjadi.
Puncak dari gejala hipotermia adalah korban tidak lagi merasa
kedinginan, tapi dia malah merasa kepanasan (dlm bukunya Norman Edwin disebut
“paradoxical feeling of warmt”). Oleh karena itu si korban akan melepas bajunya
satu per satu dan tetap masih merasa kepanasan.
Hipotermia menyerang saraf dan bergerak dengan pelan, oleh
karena itu sang korban tidak merasa kalau dia menjadi korban hipotermia. Dari
sejak korban tidak bisa menahan kedinginan sampai malah merasa kepanasan di
tengah udara yang terasa membekukan, korban biasanya tidak sadar kalau dia
telah terserang hipotermia.
Dalam kasus penderita hipotermia yang sampai pada taraf
“paradoxical feeling of warmt” selain merasa kepanasan dia juga terkena
halusinasi. Akan tetapi, dalam banyak hal lainnya, halusinasi juga telah
terjadi walau si korban tidak sampai mengalami “paradoxical feeling of warmt”.
Yang jelas, ketika si korban hipotermia sudah kehilangan “kesadaran”, maka dia
akan mudah terkena halusinasi. Dan faktor halusinasi ini yg sangat berbahaya
karena korban akan “melihat bermacam-macam hal” dan dia akan mengejar apa yg
dilihatnya itu tanpa menghiraukan apa-apa yg ada di hadapannya. Jadi tidaklah
mengherankan kalau banyak korban hipotermia ditemukan jatuh ke jurang telah meninggal
dunia.
Pada
bayi gejalanya bisa berupa:
- Bayi
tampak mengantuk
-
Kulitnya pucat dan dingin
- Lemah
- Lesu
-
Menggigil.
Hipotermia
bisa menyebabkanhipoglikemia (kadar gula darah yang rendah), asidosis metabolik
(keasaman darah yang tinggi) dan kematian. Tubuh dengan cepat menggunakan
energi agar tetap hangat, sehingga pada saat kedinginan bayi memerlukan lebih
banyak oksigen. Karena itu, hipotermia bisa menyebabkan berkurangnya aliran
oksigen ke jaringan.
D.DIAGNOSA
HIPOTERMIA
Diagnosis
ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil
pengukuran
suhu tubuh.
E.PENCEGAHAN
DAN PENGOBATAN HIPOTERMIA
Terapi yang bisa diberikan untuk orang dengan kondisi
hipotermia, yaitu jalan
nafas
harus tetap terjaga juga ketersediaan oksigen yang cukup. Prinsip penanganan
hipotermia adalah penstabilan suhu tubuh dengan menggunakan selimut hangat
(tapi hanya pada bagian dada, untuk mencegah turunnya tekanan darah secara
mendadak) atau menempatkan pasien di ruangan yang hangat. Berikan juga minuman
hangat(kalau pasien dalam kondisi sadar).
Tindakan2
Pencegahan Penyakit Hipotermia
Gejala kedinginan yang lebih parah akan membuat gerakan tubuh
menjadi tidak terkoordinasi, berjalan sempoyongan dan tersandung-sandung.
Pikiran menjadi kacau, bingung, dan pembicaraannya mulai ngacau. Kulit tubuh
terasa sangat dingin bila disentuh, nafas menjadi pendek dan lamban. Denyut
nadi pun menjadi lamban, seringkali menjadi kram bahkan akhirnya pingsan. Untuk
membantu penderita sebaiknya jangan cepat-cepat menghangatkan korban dengan
botol berisikan air panas atau membaringkan di dekat api atau pemanas. Jangang
menggosok-gosok tubuh penderita. Jika korban pingsan, baringkan dia dalam
posisi miring. Periksa saluran pernafasan, pernafasan dan denyut nadi. Mulailah
pernafasan buatan dari mulut dan menekan dada.
Pindahkan ke tempat kering yang teduh. Ganti pakaian basah
dengan pakaian kering yang hangat, selimuti untuk mencegah kedinginan. Jika
tersedia, gunakan bahan tahan angin, seperti alumunium foil atau plastik untuk
perlindungan lebih lanjut. Panas tubuh dari orang lain juga bagus untuk
diberikan, suruh seseorang melepas pakaian, dan berbagi pakai selimut dengan si
korban. Jika penderita sadar, berikan minuman hangat jangan memberikan minuman
alkohol. Segeralah cari bantuan medis. Bila kita melakukan kegiatan luar ruangan (pendakian gunung
khususnya) pada musim hujan atau di daerah dengan curah hujan tinggi, harus
membawa jas hujan, pakaian hangat (jaket tahan air dan tahan angin) dan pakaian
ganti yang berlebih dua tiga stel, serta kaus tangan dan topi ninja juga sangat
penting. Perlengkapan yang tidak kalah pentingnya adalah sepatu pendakian yang
baik dan dapat menutupi sampai mata kaki, jangan pakai sendal gunung atau
bahkan jangan pakai sendal jepit. Bawa makanan yang cepat dibakar menjadi kalori, seperti gula
jawa, coklat dll.
Dalam perjalanan banyak “ngemil” untuk
mengganti energi yang hilang.
Bila angin bertiup kencang, maka segeralah memakai perlengkapan
pakaian hangat, seperti jaket dan kaus tangan. Kehilangan panas tubuh tidak
terasa oleh kita, dan tahu- tahu saja kita jatuh sakit.
Bila hujan mulai turun bersegeralah memakai jas hujan, jangan
menunggu hujan menjadi deras. Cuaca di gunung tidak dapat diduga. Hindari
pakaian basah kena hujan.
Bila merasa dirinya lemah atau kurang kuat dalam tim, sebaiknya
terus terang pada team leader atau anggota seperjalanan yang lebih pengalaman
untuk mengawasi dan membantu bila dirasa perlu. Semangat dan jangan gampang
menyerah bila kondisi mulai memburuk.
Pencegahan Hipotermia Pada Bayi:
Bayi dibungkus dengan selimut dan kepalanya ditutup dengan topi.
Jika bayi harus dibiarkan telanjang untuk keperluan observasi maupun
pengobatan, maka bayi ditempatkan dibawah cahaya penghangat.
Untuk mencegah hipotermia, semua bayi yang baru lahir harus
tetap berada dalam keadaan hangat.
Di kamar bersalin, bayi segera dibersihkan untuk menghindari
hilangnya panas tubuh akibat penguapan lalu dibungkus dengan selimut dan diberi
penutup kepala.
F.FAKTOR
RESIKO HIPOTERMIA
1.
Umur: bayi baru lahir, orang tua.
2.
Paparan dingin di luar ruangan: olahraga, memakai baju tipis.
3. Obat
dan intoksikan: etanol, phenothiazin, barbiturate, anestesi, bloker
neuromuscular.
4.
Hormon: hipoglikemia, hipotiroidisme, kekurangan adrenalin, hipopituitarisme.
5.
Neurologis: stroke, gangguan hipotalamus, Parkinson, Cedera sumsum tulang
belakang.
6. Multisistem: malnutrisi, sepsis, shock, gangguan hati dan ginjal.
6. Multisistem: malnutrisi, sepsis, shock, gangguan hati dan ginjal.
7. Luka
bakar dan kelainan kulit eksfoliatif(mengelupas).
Prinsip kesulitan sebagai akibat hipotermia adalah meningkatnya
konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai
konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan
akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan.
B.HIPERTERMI A
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik
pengaturan hipotalamus bila mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat
dan penyakit) atau dipengarhui oleh panas eksternal (lingkungan) atau internal
(metabolik)
Sengatan panas (heat stroke) per definisi adalah penyakit berat
dengan ciri temperatur inti > 40 derajat celcius disertai kulit panas dan
kering serta abnormalitas sistem saraf pusat seperti delirium, kejang, atau
koma yang disebabkan oleh pajanan panas lingkungan (sengatan panas klasik) atau
kegiatan fisik yang berat. Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi
bayi. Keadaan ini terjadi bila bayi diletakkan dekat dengan sumber panas, dalam
ruangan yang udaranya panas, terlalu banyak pakaian dan selimut.
Gejala
hipertermia pada bayi baru lahir :
Suhu tubuh bayi > 37,5 °C
Frekuensi nafas bayi > 60 x / menit
Tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badan menurun, turgor kulit
kurang, jumlah urine berkurang
A. PATOFISIOLOG I
Sengatan panas didefinisikan sebagai kegagalan akut pemeliharaan
suhu tubuh normal dalam mengatasi lingkungan yang panas. Orang tua biasanya
mengalami sengatan panas yang tidak terkait aktifitas karena gangguan
kehilangan panas dan kegagalan mekanisme homeostatik. Seperti pada hipotermia,
kerentanan usia lanjut terhadap serangan panas berhubungan dengan penyakit dan
perubahan fisiologis.
B.FUNGSI KELENJAR KERINGAT
Gangguan sistem termoregulasi dengan berkurang atautidaknya
keringat merupakan penyebab terpenting sengatan panas pada lingkungan panas.
Respon berkeringat terhadap stimulus panas dan neurokimia berkurang pada usia
lanjut dibanding pada usia dewasa muda. Juga terdapat ambang batas lebuh tinggi
pada usia lanjut untuk berkeringat. Pada kondisi stres panas, manusia
mengaktifkan kelenjar ekrin (di bawah kontrol kolinergik simpatis) dan
kemampuan kelenjar itu megneluarkan keringat untuk mengatur suhu tubuh.
Meskipun terdapat variasi luas antara individu dalam respon kelenjar keringat
terhadap stimulus farmakologis, terdapat pula stimulus yang berasal dari proses
penuaan. Pengaruh penuaan terhadap menurunnya fungsi kelenjar keringat terlihat
jelas di daerah dahi dan ekstremitas daripada di badan.
C.ALIRAN DARAH KULIT
Respon aliran darah kulit terhadap pemanasan lokal langsung pada
kulit nonakral berkurang pada usia lanjut. Berkurangnya perfusi kulit pada usia
lanjut berkaitan dengan berkurangnya unit fungsional pleksus kapiler. Pada usia
tua, terjadi transformasi kulit dimana kulit menjadi lebih datar akibat
berkurangnya pembuluh darah mikrosirkuler di papilaris kulit dan pleksus
vaskular superfisial.
Klinis
Sengatan panas memiliki ciri khas di mana suhu tubuh inti lebih
dari 40,6 derajat celcius disertai disfungsi sistem saraf pusat yang berat
(psikosis, delirium, koma) dan anhidrosis (kulit yang panas dan kering).
Manifestasi dini, disebut kelelahan panas (heat exhaustion), tidak khas dan
terdiri dari rasa pusing, kelemahan, sensasi panas, anoreksia, mual, muntah,
sakit kepala dan sesak napas. Komplikasi serangan panas mencakup gagal jantung
kongestif dan aritmia jantung, edema serebral dan kejang serta defisit
neurologis difus dan fokal, nekrosis hepatoseluler dan syok.
Terapi Kunci mengatasi hipertermia adalah pendinginan. Hal ini
dimulai segera di lapangan dan suhu tubuh inti harus diturunkan mencapai 39
derajat Celsius dalam jam pertama. Lamanya hipertermia adalah yang paling
menentukan hasil akhir. Berendam dalam es lebih baik dari pada menggunakan
alkohol maupun kipas angin. Komplikasi membutuhkan perawtan di ruang intensif.
Suhu tubuh kita dalam keadaan normal dipertahankan di kisaran
37'C oleh pusat pengatur suhu di dalam otak yaitu hipotalamus. Pusat pengatur
suhu tersebut selalu menjaga keseimbangan antara jumlah panas yang diproduksi
tubuh dari metabolisme dengan panas yang dilepas melalui kulit dan paru
sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan dalam kisaran normal. Walaupun
demikian, suhu tubuh kita memiliki fluktuasi harian yaitu sedikit lebih tinggi
pada sore hari jika dibandingkan pagi harinya.
Demam merupakan suatu keadaan dimana terdapat peningkatan suhu
tubuh yang disebabkan kenaikan set point di pusat pengatur suhu di otak. Hal
ini serupa dengan pengaturan set point (derajad celsius) pada remote AC yang
bilamana set point nya dinaikkan maka temperatur ruangan akan menjadi lebih
hangat. Suatu nilai suhu tubuh dikatakan demam jika melebihi 37,2 ‘C pada
pengukuran di pagi hari dan atau melebihi 37,7'C pada pengukuran di sore hari
dengan menggunakan termometer mulut. Termometer ketiak akan memberikan hasil
nilai pengukuran suhu yang lebih rendah sekitar 0.5'C jika dibandingkan dengan
termometer mulut sehingga jenis termometer yang digunakan berpengaruh dalam
pengukuran suhu secara tepat.
Sebagian
besar kasus demam memang disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi dan
peradangan sehingga gejala demam seringkali diidentikkan dengan adanya infeksi
dalam tubuh. Namun sebenarnya ada banyak proses lainnya selain infeksi yang
dapat menimbulkan gejala demam antara lain alergi, penyakit autoimun, kelainan
darah dan keganasan. Berbagai proses tersebut akan memicu pelepasan pirogen,
yaitu mediator penyebab demam, ke dalam peredaran darah yang lebih lanjut akan
memicu pelepasan zat tertentu yang bernama prostaglandin sehingga akan
menaikkan set point di pusat pengaturan suhu di otak.
Pelepasan prostaglandin tersebut pulalah yang merupakan dalang
dari timbulnya berbagai gejala yang sering menyertai demam yaitu badan meriang,
pegal-linu dan sakit kepala. Set point di pusat pengatur suhu di otak yang
tiba-tiba naik tersebut akan membuat tubuh merasa bahwa suhu badan berada
dibawah nilai normal akibatnya pembuluh darah akan menyempit untuk mencegah
kehilangan panas badan dan tubuh akan mulai menggigil untuk menaikkan suhu
tubuh. Jadi menggigil dapat dikatakan suatu tahapan awal dari kenaikan suhu
tubuh dalam proses demam. Dengan demikian, gejala menggigil, demam, sakit
kepala, dan badan pegal-linu merupakan satu paket gejala yang disebabkan oleh
proses yang sejalan.
Selain itu terdapat pula kondisi ‘demam' lainnya namun yang
tidak disebabkan oleh kenaikan set point di pusat pengatur suhu di otak, yaitu
dikenal sebagai hipertermia. Pada hipertermia, terdapat kenaikan suhu tubuh
yang tinggi yang disebabkan oleh peningkatan suhu inti tubuh secara berlebihan
sehingga terjadi kegagalan mekanisme pelepasan panas. Hipertermia antara lain
dijumpai pada heat stroke (tersengat panasnya udara lingkungan), aktivitas
fisik yang berlebihan pada cuaca panas serta dikarenakan efek dari beberapa
jenis obat-obatan seperti ekstasi.
Terapi hipertermia (disebut jugatermoterapi, selanjutnya kita
sebut hipertermia saja) adalah pengobatan kanker dengan cara memanaskan
jaringan tubuh sampai mencapai 44o bahkan 45oC. Riset membuktikan bahwa suhu
yang tinggi dapat menghancurkan dan membunuh sel kanker, dengan kerusakan
minimal pada jaringan normal. Dengan merusak protein maupun struktur sel,
hipertermia dapat membunuh sel kanker dan memperkecil ukuran tumor.
Biasanya hipertermia digunakan bersamaan dengan terapi lain,
misalnya radioterapi, kemoterapi, atau imunoterapi, karena hipertermia dapat
membuat sel kanker lebih sensitif, bahkan dapat langsung menghancurkan sel-sel
kanker yang tidak dapat dihancurkan oleh radiasi.
Teknik kedua yaitu regional perfusion, untuk mengobati kanker
di lengan dan kaki,
atau di
dalam organ-organ tubuh seperti hati dan paru-paru. Caranya, sebagian darah
penderita dikeluarkan, dipanaskan, lalu dipompa kembali ke dalam lengan, kaki,
atau organ tersebut. Teknik ini biasanya dilakukan bersamaan dengan kemoterapi.
Teknik ketiga adalah CHPP (continuous hyperthermic peritoneal
perfusion),
digunakan
untuk mengobati kanker di dalam rongga perut seperti peritoneal mesothelioma.
Selama pembedahan, obat kemoterapi dipanaskan kemudian dialirkan ke dalam
rongga perut, sehingga suhunya mencapai 41,1-42,2oC.
F.HIPERTERMIA
TOTAL
Untuk kanker yang sudah bermetastase (menyebar) ke seluruh
tubuh, dilakukan hipertermia total (whole body hyperthermia). Penderita
diselimuti dengan selimut listrik atau air panas, atau dimasukkan ke dalam
ruang panas (semacam inkubator) untuk membuat suhu tubuhnya meningkat sampai
41,7-43,8oC.
Terapi hipertermia terbukti dapat meningkatkan efektivitas
radioterapi maupun kemoterapi. Banyak lokasi yang dapat dicapai, antara lain
kanker di kepala dan leher, kanker payudara, paru-paru, liver, rongga perut,
leher rahim, usus, kandungan, prostat, kulit, tulang. Jenis kanker yang dapat
diterapi pun macam-macam, dariadenocarcinoma,
melanoma,
carcinoma, thymoma, mesothelioma, lymphoma, sarcoma, squamous cell, basa
cell.
Pengobatan hipertermia dilakukan 2-3 kali seminggu, dan tiap
seri terdiri atas 6-10 kali terapi. Efektivitasnya tergantung pada sejauh mana
suhu tubuh berhasil ditingkatkan, berapa lama berhasil dipertahankan, selain
juga tergantung pada karakteristik sel dan jaringan yang diterapi. Selama
terapi suhunya terus dipantau menggunakan termometer mini, agar suhu yang
diinginkan dapat tercapai tetapi tidak terlampaui. Panas buatan ini
dipertahankan selama satu jam.
G.EFEK
SAMPING HIPERTERMIA
Terapi hipertermia pada umumnya tidak menyebabkan kerusakan
jaringan normal/sehat jika suhunya tidak melebihi 43,8oC. Tetapi perbedaan
karakter jaringan dapat menimbulkan perbedaan suhu atau efek samping pada
jaringan tubuh yang berbeda-beda.
Yang
sering terjadi adalah rasa panas (seperti terbakar), bengkak berisi cairan
(mlenthung –Jw), tidak nyaman, bahkan sakit.
Teknik perfusi dapat menyebabkan pembengkakan jaringan,
penggumpalan darah, perdarahan, atau gangguan lain di area yang diterapi.
Tetapi efek samping ini bersifat sementara. Sedang whole body hyperthermia
dapat menimbulkan efek samping yang lebih serius –tetapi jarang terjadi–
seperti kelainan jantung dan pembuluh darah. Kadang efek samping yang muncul
malah diare, mual, atau muntah.
PENGKAJIAN
HIPOTERMIA & HIPERTERMIA
1.
Riwayat kehamilan
Kesulitan persalinan dengan trauma infant
Penyalahgunaan obat-obatan
Penggunaan anestesia atau analgesia pada ibu
2. Status bayi saat lahir
Prematuritas
APGAR score yang rendah
Asfiksia dengan rescucitasi
Kelainan CNS atau kerusakan
Suhu tubuh dibawah 36,5 C atau diatas 37,5 C
Demam pada ibu yang mempresipitasi sepsis neonatal
3.
Kardiovaskular
Bradikardi
Takikardi pada hipertermia
4.
Gastrointestinal
Asupan makanan yang buruk
Vomiting atau distensi abdomen
Kehilangan berat badan yang berarti
5.
Integumen
Cyanosis central atau pallor (hipotermia)
Kulit kemerahan
(hipertermia)
Edema pada muka, bahu dan lengan
Dingin pada dada dan ekstremitas(hipotermia)
Perspiration (hipertermia)
6.
Neorologic
Tangisan yang lemah
Penurunan reflek dan aktivitas
Fluktuasi suhu diatas atau dibawah batas normal sesuai umur dan
berat badan
7.
Pulmonary
Nasal flaring atau penurunan nafas, iregguler
Retraksi dada
Ekspirasi grunting
Episode apnea atau takipnea (hipertermia)
8.
Renal
Oliguria
9.
Study diagnostik
Kadar glukosa serum, untuk mengidentifikasi penurunan yang
disebabkan energi yang digunakan untuk respon terhadap dingin atau panas
Analisa gas darah, untuk menentukan peningkatan karbondoksida
dan penurunan kadar oksigen, mengindikasikan resiko acidosis
Kadar Blood Urea Nitrogen, peningkatan mengindikasikan kerusakan
fungsi ginjal dan potensila oliguri
Study elektrolit, untuk mengidentifikasi peningkatan potasium
yang berhubungan dengan kerusakan fungsi ginjal
Kultur cairan tubuh, untuk mengidentifikasi adanya infeksi
DAFTAR PUSTAKA
Kartika, Dela. 2009. Hipotermi dan hipertermi
Hipoglikemia adalah kadar gula darah (glukosa) yang rendah.
PENYEBAB
Hipoglikemia biasanya terjadi jika seorang bayi pada saat dilahirkan memiliki cadangan glukosa yang rendah (yang disimpan dalam bentuk glikogen).
Penyebab lainnya adalah:
# Prematuritas
# Post-maturitas
# Kelainan fungsi plasenta (ari-ari) selama bayi berada dalam kandungan.
Hipoglikemia juga bisa terjadi pada bayi yang memiliki kadar insulin tinggi.
Bayi yang ibunya menderita diabetes seringkali memiliki kadar insulin yang tinggi karena ibunya memiliki kadar gula darah yang tinggi; sejumlah besar gula darah ini melewati plasenta dan sampai ke janin selama masa kehamilan. Akibatnya, janin menghasilkan sejumlah besar insulin.
Peningkatan kadar insulin juga ditemukan pada bayi yang menderita penyakit hemolitik berat.
Kadar insulin yang tinggi menyebabkan kadar gula darah menurun dengan cepat pada jam-jam pertama kehidupan bayi setelah dilahirkan, dimana aliran gula dari plasenta secara tiba-tiba terhenti.
GEJALA
Banyak bayi yang tidak menunjukkan gejala. Sedangkan bayi yang lainnya bisa menunjukkan gejala berikut:
- lesu
- tidak kuat menghisap
- ototnya kendur
- pernafasannya cepat atau terjadi apneu (henti nafas)
- kadang timbul kejang.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan kadar gula darah.
PENGOBATAN
Diberikan glukosa, baik melalui mulut maupun melalui infus, tergantung kepada beratnya hipoglikemia.
PENYEBAB
Hipoglikemia biasanya terjadi jika seorang bayi pada saat dilahirkan memiliki cadangan glukosa yang rendah (yang disimpan dalam bentuk glikogen).
Penyebab lainnya adalah:
# Prematuritas
# Post-maturitas
# Kelainan fungsi plasenta (ari-ari) selama bayi berada dalam kandungan.
Hipoglikemia juga bisa terjadi pada bayi yang memiliki kadar insulin tinggi.
Bayi yang ibunya menderita diabetes seringkali memiliki kadar insulin yang tinggi karena ibunya memiliki kadar gula darah yang tinggi; sejumlah besar gula darah ini melewati plasenta dan sampai ke janin selama masa kehamilan. Akibatnya, janin menghasilkan sejumlah besar insulin.
Peningkatan kadar insulin juga ditemukan pada bayi yang menderita penyakit hemolitik berat.
Kadar insulin yang tinggi menyebabkan kadar gula darah menurun dengan cepat pada jam-jam pertama kehidupan bayi setelah dilahirkan, dimana aliran gula dari plasenta secara tiba-tiba terhenti.
GEJALA
Banyak bayi yang tidak menunjukkan gejala. Sedangkan bayi yang lainnya bisa menunjukkan gejala berikut:
- lesu
- tidak kuat menghisap
- ototnya kendur
- pernafasannya cepat atau terjadi apneu (henti nafas)
- kadang timbul kejang.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan kadar gula darah.
PENGOBATAN
Diberikan glukosa, baik melalui mulut maupun melalui infus, tergantung kepada beratnya hipoglikemia.
ASKEB
TETANUS NEONATORUM
TETANUS NEONATORUM
PENGERTIAN
TETANUS NEONATORUM adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clastridium Tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun yang menyerang sistem saraf pusat).
TETANUS NEONATORUM adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clastridium Tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun yang menyerang sistem saraf pusat).
PENYEBAB
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab radang yang sering dijumpai pada BBLR bukan karena trauma kelahiran atau afiksia tetapi disebabkan oleh infeksi mana neonatal antara lain:
1. Infeksi melalui tali pusat
2. Akibat pemotongan tali pusat yang kurang steril
3. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan program
4. Pertolongan persalinan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
Clostridium tetani terdapat di tanah, dan traktus digestivus manusia dan hewan. Kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana anaerob.
Tetanus Neonatorum merupakan penyebab radang yang sering dijumpai pada BBLR bukan karena trauma kelahiran atau afiksia tetapi disebabkan oleh infeksi mana neonatal antara lain:
1. Infeksi melalui tali pusat
2. Akibat pemotongan tali pusat yang kurang steril
3. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan program
4. Pertolongan persalinan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
Clostridium tetani terdapat di tanah, dan traktus digestivus manusia dan hewan. Kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana anaerob.
INSIDEN
Angka kematian kasus (Case Fatality Rate atau CFR) sangat tinggi pada kasus Tetanus Neonatorum yang tidak dirawat, angka mendekati 100%. Angka kematian kasus Tetanus Neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 – 55%.
Angka kematian kasus (Case Fatality Rate atau CFR) sangat tinggi pada kasus Tetanus Neonatorum yang tidak dirawat, angka mendekati 100%. Angka kematian kasus Tetanus Neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 – 55%.
MASA INKUBASI
Tetanus Neonatorum ini terjadi selama 5-14 hari. Pada umumnya Tetanus Neonatorum ini lebih cepat dan penyakit berlangsung lebih berat daripada Tetanus pada anak.
PATOFISIOLOGI
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak, sumsum tulang belakang, dan terutama pada nukleus motorik kematian disebabkan oleh Asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu, dapat disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernapasan dan peredaran darah. Sebab kematian yang lain ialah Pnemunia Aspirasi dan Sepsis. Kedua sebab yang terakhir ini mungkin sekali merupakan sebab utama kematian Tetanus Neonatorum di Indonesia.
Pada bayi, penyakit ini ditularkan biasanya melalui tali pusat, yaitu karena pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril. Selain itu infeksi dapat juga melalui pemakaian obat (dermatol), bubuk daun-daunan yang digunakan dalam perawatan tali pusat.
Tetanus Neonatorum ini terjadi selama 5-14 hari. Pada umumnya Tetanus Neonatorum ini lebih cepat dan penyakit berlangsung lebih berat daripada Tetanus pada anak.
PATOFISIOLOGI
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak, sumsum tulang belakang, dan terutama pada nukleus motorik kematian disebabkan oleh Asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu, dapat disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernapasan dan peredaran darah. Sebab kematian yang lain ialah Pnemunia Aspirasi dan Sepsis. Kedua sebab yang terakhir ini mungkin sekali merupakan sebab utama kematian Tetanus Neonatorum di Indonesia.
Pada bayi, penyakit ini ditularkan biasanya melalui tali pusat, yaitu karena pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril. Selain itu infeksi dapat juga melalui pemakaian obat (dermatol), bubuk daun-daunan yang digunakan dalam perawatan tali pusat.
PENANGANAN
Penanganan secara umum pada Tetanus Neonatorum:
1. Mengatasi kejang
a) Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan, penderita/bayi ditempatkan di kamar yang tenang dengan sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya.
b) Memberikan suntikan anti kejang, obat yang dipakai ialah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat anus.
2. Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihkan jalan nafas. Pemasangan spatel bila lidah tergigit
3. Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau di telinga
4. Pemberian antitoksin
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi ATS dengan dosis 10.000 satuan setiap hari selama 2 hari berturut-turut dengan IM, kalau per infuse diberikan ATS 20.000 UI sekaligus.
5. Pemberian antibiotic
Untuk mengatasi infeksi dapat digunakan penisilin 200.000 UI setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari sesudah panas turun atau ampisilin 100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis secara intravena selama 10 hari.
6. Perawatan yang adekuat, meliputi:
a) Kebutuhan oksigen
b) Makanan (harus hati-hati dengan memakai pipa yang dibuat dari polietilen atau karet)
c) Keseimbangan cairan dan elektrolit, kalau pemberian makanan peros tidak mungkin maka diberikan makanan dan cairan intravena. Cairan intravena berupa larutan glukosa 5% : NaCI fisiologik 4:1 selama 48-70 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk selanjutnya untuk memasukkan obat.
Bila sakit penderita lebih dari 24 jam atau sering terjadi kejang atau apnue, berikan larutan glukosa 10% : natrium bikarbonat 4:1 (sebaiknya jenis cairan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah) bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui cairan infus perlu ditambahkan protein dan kalium.
d) Tali pusat dirawat dengan kasa bersih dan kering
Penanganan secara umum pada Tetanus Neonatorum:
1. Mengatasi kejang
a) Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan, penderita/bayi ditempatkan di kamar yang tenang dengan sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya.
b) Memberikan suntikan anti kejang, obat yang dipakai ialah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat anus.
2. Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihkan jalan nafas. Pemasangan spatel bila lidah tergigit
3. Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya di tali pusat atau di telinga
4. Pemberian antitoksin
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi ATS dengan dosis 10.000 satuan setiap hari selama 2 hari berturut-turut dengan IM, kalau per infuse diberikan ATS 20.000 UI sekaligus.
5. Pemberian antibiotic
Untuk mengatasi infeksi dapat digunakan penisilin 200.000 UI setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari sesudah panas turun atau ampisilin 100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis secara intravena selama 10 hari.
6. Perawatan yang adekuat, meliputi:
a) Kebutuhan oksigen
b) Makanan (harus hati-hati dengan memakai pipa yang dibuat dari polietilen atau karet)
c) Keseimbangan cairan dan elektrolit, kalau pemberian makanan peros tidak mungkin maka diberikan makanan dan cairan intravena. Cairan intravena berupa larutan glukosa 5% : NaCI fisiologik 4:1 selama 48-70 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk selanjutnya untuk memasukkan obat.
Bila sakit penderita lebih dari 24 jam atau sering terjadi kejang atau apnue, berikan larutan glukosa 10% : natrium bikarbonat 4:1 (sebaiknya jenis cairan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah) bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui cairan infus perlu ditambahkan protein dan kalium.
d) Tali pusat dirawat dengan kasa bersih dan kering
DIAGNOSA/MASALAH DAN PENANGANAN
Diagnosa atau masalah terjadinya Tetanus Neonatorum:
1. Terjadinya Gangguan Fungsi Pernapasan
Pada masalah ini dapat disebabkan kuman yang menyerang otot-otot pernapasan sehingga otot pernapasan tidak berfungsi. Adanya spasme mulut dan tenggorokan sehingga mengganggu jalan nafas.
à Intervensinya yang dapat dilakukan:
a) Atur posisi bayi dengan kepala ekstensi
b) Berikan oksigan 1-2 liter/menit. Jika sedang terjadi kejang karena sianosis bertambah berat O2 diberikan lebih tinggi dapat sampai 4 liter/menit (jika kejang berhenti turunkan lagi)
c) Bila terjadi kejang, pasang sudip lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan juga memudahkan penghisapan lendir bila ada, lebih baik dipasang guedel (selama masih banyak kejang guedel atau sudip lidah dipasang terus)
d) Sering isap lendir yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat lendir pada mulut bayi
e) Observasi tanda vital secara kontinu setiap ½ jam dan catat secara cermat, pasien Tetanus Neonatorum karena mendapatkan anti Konvulsan terus kemungkinan sewaktu-waktu dapat terjadi apnea
f) Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat (pasang selubung tempat tidur/kain di sekeliling tempat tidur karena selama payah bayi sering dalam keadaan telanjang, maksudnya agar memudahkan pengawasan pernapasannya). Bila bayi kedinginan juga dapat menyebabkan apnea
2. Pemenuhan Nutrisi atau Cairan
Akibat bayi tidak mau menetek dan untuk memenuhi kebutuhan makanannya perlu diberi infus dengan cairan glukosa 10%. Tetapi karena bayi juga sering sianosis maka cairan ditambahkan natrikus 11/2% dengan perbandingan 4:1.
3. Kurangnya Pengetahuan Orang Tua
Pada orang tua pasien yang bayinya menderita Tetanus perlu diberikan penjelasan bahwa bayinya menderita sakit berat atau bahaya maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus. Selain itu, yang perlu dijelaskan ialah bila ibunya hamil lagi agar minta suntikan pencegahan tetanus.
Diagnosa atau masalah terjadinya Tetanus Neonatorum:
1. Terjadinya Gangguan Fungsi Pernapasan
Pada masalah ini dapat disebabkan kuman yang menyerang otot-otot pernapasan sehingga otot pernapasan tidak berfungsi. Adanya spasme mulut dan tenggorokan sehingga mengganggu jalan nafas.
à Intervensinya yang dapat dilakukan:
a) Atur posisi bayi dengan kepala ekstensi
b) Berikan oksigan 1-2 liter/menit. Jika sedang terjadi kejang karena sianosis bertambah berat O2 diberikan lebih tinggi dapat sampai 4 liter/menit (jika kejang berhenti turunkan lagi)
c) Bila terjadi kejang, pasang sudip lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan juga memudahkan penghisapan lendir bila ada, lebih baik dipasang guedel (selama masih banyak kejang guedel atau sudip lidah dipasang terus)
d) Sering isap lendir yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat lendir pada mulut bayi
e) Observasi tanda vital secara kontinu setiap ½ jam dan catat secara cermat, pasien Tetanus Neonatorum karena mendapatkan anti Konvulsan terus kemungkinan sewaktu-waktu dapat terjadi apnea
f) Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat (pasang selubung tempat tidur/kain di sekeliling tempat tidur karena selama payah bayi sering dalam keadaan telanjang, maksudnya agar memudahkan pengawasan pernapasannya). Bila bayi kedinginan juga dapat menyebabkan apnea
2. Pemenuhan Nutrisi atau Cairan
Akibat bayi tidak mau menetek dan untuk memenuhi kebutuhan makanannya perlu diberi infus dengan cairan glukosa 10%. Tetapi karena bayi juga sering sianosis maka cairan ditambahkan natrikus 11/2% dengan perbandingan 4:1.
3. Kurangnya Pengetahuan Orang Tua
Pada orang tua pasien yang bayinya menderita Tetanus perlu diberikan penjelasan bahwa bayinya menderita sakit berat atau bahaya maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus. Selain itu, yang perlu dijelaskan ialah bila ibunya hamil lagi agar minta suntikan pencegahan tetanus.
DAFTAR PUSTAKA
Wiknyosastro, Gulardi Hanifa. 2002. PELAYANAN KESEHATAN MATERIAL
DAN NEONATAL. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.
Ngastiyah. 1997. PERAWATAN ANAK SAKIT. Buku Kedokteran EGC :
Jakarta.
Hidayat, Azis Alimul. 2005. PENGANTAR ILMU KEPERAWATAN ANAK I.
Salemba Medika : Jakarta.
Wiknyosastro, Gulandi Hanifa. 2005. ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina
Pustaka Sarwino Prawirohardjo : Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar